Penting Untuk Trader
Saturday, 1 April 2017
Sunday, 16 October 2016
Saturday, 1 October 2016
Sunday, 25 September 2016
Sunday, 25 September 2016
Tuesday, 30 August 2016
Friday, 24 Juny 2016
Forex Articles
Wednesday, 31 August 2016
Sunday, 16 November 2014
Saturday, 15 November 2014
Thursday, 30 January 2014
Sunday, 22 December 2013
Sunday, 22 December 2013
Sunday, 22 December 2013
Saturday, 21 December 2013
Saturday, 21 December 2013
Saturday, 21 December 2013


Membaca Trend Menggunakan Momentum
Posted date : Sunday, 24 April 2016
By : admin - view : 425 Kali

Indikator momentum mengukur kecepatan dan besarnya perubahan harga dalam periode waktu tertentu. Pada umumnya indikator momentum akan naik ketika arah trend sedang kuat, dan sebaliknya akan turun ketika trend sedang melemah. Pada artikel ini akan diulas mengenai penggunaan indikator momentum yang asli, bukan turunannya seperti Commodity Channel Index (CCI), Relative Strength Index (RSI), atau stochastics.

Indikator momentum lazim juga disebut dengan Rate of Change (ROC). Momentum dikur pada suatu periode waktu tertentu dengan formula:
Momentum pada periode waktu n = (harga penutupan saat ini / harga penutupan pada periode n) x 100
Periode waktu default yang sering digunakan adalah 14.
Pada umumnya ada 3 cara dalam menggunakan indikator momentum, yaitu: sebagai trend following indicator, sebagai indikator pembalikan trend (trend reversal) dan sebagai leading indicator dengan isyarat divergensi yang terjadi.


1. Menentukan arah trend dengan indikator momentum

Dalam platform trading Metatrader, indikator momentum menggunakan level 100 sebagai acuan.

Jika garis kurva indikator momentum memotong level 100 dari bawah ke atas, maka pergerakan harga akan cenderung bullish, dan sebaliknya jika memotong level 100 dari atas ke bawah maka pergerakan harga akan cenderung bearish. Untuk menyaring (filtering) arah trend agar diperoleh momentum entry yang probabilitasnya tinggi, bisa digunakan indikator simple moving average (sma), misalnya sma periode 20 seperti pada contoh EUR/USD daily diatas.

2. Sebagai indikator penerusan arah trend atau pembalikan arah trend

Dalam hal ini indikator momentum bisa menunjukkan level overbought dan oversold seperti halnya RSI atau stochastic, tetapi karena zona level overbought dan oversold tidak bisa ditentukan (relatif), maka kita mesti memperhatikan kondisi ekstrem dengan asumsi tertentu. Jika indikator momentum mencapai level tertinggi atau terendah (relatif), kita harus mengasumsikan arah trend masih akan berlanjut seperti sebelumnya hingga pergerakan harga berubah.

Sebagai contoh jika indikator momentum mencapai level tertinggi dan kemudian turun maka kita asumsikan harga masih akan naik, dan kita hanya akan entry sell bila harga telah benar-benar turun. Untuk amannya bisa juga dikonfirmasikan dengan indikator moving average.

Pada contoh diatas arah panah menunjukkan penerusan arah trend karena pergerakan harga masih diatas garis kurva moving average.

 

3. Melihat isyarat dari divergensi antara pergerakan harga dan arah pergerakan indikator momentum

Contoh berikut adalah terjadinya divergensi bullish (garis warna biru) dan divergensi bearish (garis warna merah).

Divergensi bullish yang mengisyaratkan pembalikan arah trend (dari bearish ke bullish) adalah jika pergerakan harga menunjukkan level low yang lebih rendah dari sebelumnya (lower low), sementara indikator momentum menunjukkan level low yang lebih tinggi dari level low sebelumnya (higher low).

Divergensi bearish yang mengisyaratkan pembalikan arah trend (dari bullish ke bearish) adalah jika pergerakan harga menunjukkan level high yang lebih tinggi dari sebelumnya (higher high), sementara indikator momentum menunjukkan level high yang lebih rendah dari level high sebelumnya (lower high).

 

 


Learning Center
Pemula



Materi Dasar



Advanced